SIAK,LIPUTANREDAKSI.COM — Ribuan ikan ditemukan mati dan mengapung di aliran Sungai Puing, wilayah Kampung Pangkalan Pisang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak. Kondisi tersebut membuat nelayan setempat resah dan menduga kematian ikan berkaitan dengan aktivitas pabrik kelapa sawit PT Siak Perima Sakti (SPS).
Kematian ikan itu diketahui ketika sejumlah nelayan sedang mencari ikan di sekitar aliran Sungai Puing. Mereka menemukan ikan dalam jumlah cukup banyak mengapung di permukaan sungai.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan dugaan adanya pencemaran aliran sungai. Nelayan berharap persoalan tersebut segera ditelusuri dan apabila terbukti terjadi pencemaran akibat aktivitas perusahaan, pihak PT SPS diminta bertanggung jawab.
“Kami berharap ini segera ditelusuri. Sungai ini menjadi tempat nelayan mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar salah seorang nelayan setempat.
Vidio penemuan Nelayan
Pemangku adat Kampung Kuala Gasib, M. Amin, juga meminta persoalan tersebut mendapat perhatian serius. Menurutnya, keberadaan sungai sangat penting bagi masyarakat, khususnya para nelayan yang menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil tangkapan.
“Perusahaan harus bertanggung jawab kalau memang terbukti ada masalah limbah. Kasihan nelayan setempat, mereka mencari ikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” kata M. Amin.
Sementara itu, pihak PT Siak Perima Sakti membantah dugaan bahwa ikan yang mati tersebut berasal dari limbah pabrik.

Personalia PT SPS, Putra, mengatakan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Siak telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
“Saat ini DLH sudah di lokasi, Bang. Bukan limbah. Konfirmasi ke DLH saja langsung, biar pasti karena nanti takut tidak sesuai. Saya juga tidak ikut mendampingi DLH ke lapangan,” ujar Putra saat dikonfirmasi.
Ia juga mengatakan tidak menemukan ikan mati di sekitar lokasi pabrik.
“Ikan di seputaran lokasi pabrik tidak ada yang mati. Video itu tidak tahu di daerah mana ikan yang mati,” katanya.
Terpisah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Siak turut melakukan verifikasi di lapangan bersama masyarakat dan pihak perusahaan.
Mahdan Syarif dari DLH Kabupaten Siak mengatakan, berdasarkan verifikasi sementara, air yang mengalir di lokasi tersebut diduga bukan berasal dari air limbah pabrik.
“Untuk sementara hasil kami verifikasi di lapangan bersama masyarakat dan perusahaan, diduga bukan air limbah, Bang. Itu merupakan dari aliran drainase air hujan,” ujar Mahdan saat dikonfirmasi.
Meski demikian, DLH belum mengambil kesimpulan akhir. Untuk memastikan sumber dan kandungan air tersebut, pihaknya bersama pihak terkait telah mengambil sampel air untuk dilakukan pengujian di laboratorium.
“Untuk memastikannya, kami tadi sepakat bersama mengambil sampel air untuk dilakukan uji laboratorium,” katanya.
Saat ditanya kapan hasil pemeriksaan laboratorium dapat diketahui, Mahdan menyebut hasilnya diperkirakan keluar sekitar tiga pekan.
“Estimasi hasilnya tiga minggu,” ujarnya.
Dengan demikian, penyebab pasti kematian ikan di aliran Sungai Puing masih menunggu hasil uji laboratorium. Masyarakat dan nelayan setempat berharap pemeriksaan tersebut dapat mengungkap penyebab kematian ikan secara objektif serta memastikan kondisi kualitas air Sungai Puing.**








